Ekonomi Australia Tetap Lesu Saat Konsumen Menahan Pengeluaran
Kelemahan ekonomi Australia berlanjut selama tiga bulan yang berakhir pada Juni, seiring konsumen menahan belanja di tengah tingginya biaya pinjaman dan inflasi yang masih membandel.
Data dari Biro Statistik Australia (Australian Bureau of Statistics/ABS) pada Rabu menunjukkan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut hanya tumbuh 0,2% dibandingkan kuartal sebelumnya, sesuai dengan perkiraan para ekonom. Secara tahunan, ekonomi Australia mencatat pertumbuhan 1%, sedikit lebih tinggi dari revisi sebelumnya sebesar 1,3% dan proyeksi 0,9%.
Katherine Keenan, Kepala Divisi Akun Nasional ABS, mengatakan bahwa “jika tidak memperhitungkan periode pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi tahunan untuk tahun fiskal ini merupakan yang terendah sejak 1991–1992, yakni periode pemulihan lambat dari resesi tahun 1991.” Ia menambahkan bahwa PDB per kapita Australia telah menurun selama enam kuartal berturut-turut, menandakan tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat.
Dolar Australia tetap melemah setelah rilis data tersebut, begitu pula imbal hasil obligasi pemerintah tenor tiga tahun yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Perlambatan ini memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi yang dipicu oleh permintaan domestik mulai mereda, membuka ruang bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk menahan suku bunga acuan lebih lama guna menilai arah ekonomi. Saat ini, suku bunga kas RBA berada di level tertinggi dalam 12 tahun terakhir, yakni 4,35%.
RBA memperkirakan bahwa kuartal kedua merupakan titik terendah dari perlambatan ekonomi, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan akan meningkat menjadi 1,7% pada akhir tahun ini dan mencapai 2,5% pada akhir 2025. Namun, pemulihan tersebut diperkirakan berlangsung lambat karena tekanan dari tingginya suku bunga masih membebani konsumsi rumah tangga dan aktivitas sektor perumahan.
Menurut analisis Bloomberg Economics, pertumbuhan ekonomi Australia kemungkinan tetap lemah sepanjang tahun ini karena dampak kumulatif dari biaya pinjaman tinggi terus menekan daya beli konsumen dan investasi perumahan. Dengan laju pertumbuhan yang jauh di bawah rata-rata dekade sebelumnya sebesar 2,4%, Australia kini menghadapi tantangan menjaga momentum ekspansi tanpa menyalakan kembali risiko inflasi.
Kondisi ini menempatkan kebijakan moneter RBA dalam posisi serba hati-hati — di satu sisi perlu menjaga stabilitas harga, namun di sisi lain harus memastikan agar kebijakan ketat tidak menjerumuskan ekonomi ke dalam kontraksi yang lebih dalam. Ke depan, arah pengeluaran rumah tangga dan perkembangan inflasi inti akan menjadi indikator utama yang menentukan langkah RBA dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber: Bloomberg
Komentar
Posting Komentar