Harga Emas Turun dari Rekor Tertinggi, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS untuk Petunjuk Kebijakan The Fed

Harga emas dunia melemah pada Rabu setelah mencapai rekor tertinggi pada sesi sebelumnya, seiring dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah. Para investor kini menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Harga emas spot turun 0,8% menjadi USD 3.734,58 per ons pada pukul 01.56 waktu New York (1756 GMT), setelah sempat menyentuh rekor tertinggi USD 3.790,82 pada Selasa. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 1,2% lebih rendah di USD 3.768,10 per ons.

Penguatan dolar AS sekitar 0,6% membuat harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga ikut naik, menambah tekanan pada harga logam mulia.

Menurut Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, “Emas masih dalam fase penyesuaian terhadap pernyataan dari pejabat The Fed kemarin serta meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Rusia. Pasar terlihat berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi utama.”

Ketua The Fed Jerome Powell dalam pidatonya pada Selasa tidak memberikan sinyal baru terkait arah kebijakan suku bunga, hanya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara risiko inflasi yang masih tinggi dan melemahnya pasar tenaga kerja. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin akan dilakukan tahun ini — satu pada Oktober dengan probabilitas 94%, dan satu lagi pada Desember dengan probabilitas 77%, menurut alat pantau CME FedWatch.

Fokus pasar kini tertuju pada data klaim pengangguran mingguan AS yang akan dirilis Kamis, serta indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang dijadwalkan pada Jumat — indikator inflasi favorit The Fed yang akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter berikutnya.

Dari sisi geopolitik, ketegangan masih tinggi setelah militer Ukraina mengklaim telah menyerang dua stasiun pompa minyak di wilayah Volgograd, Rusia, pada Rabu dini hari. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian global yang biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset safe haven.

Namun demikian, momentum kenaikan emas tampaknya tertahan oleh penguatan dolar dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi. Secara historis, emas cenderung menguat dalam kondisi suku bunga rendah dan ketegangan geopolitik, karena sifatnya sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset).

Di pasar logam lainnya, perak spot turun 0,4% menjadi USD 43,84 per ons, platinum melemah 0,7% ke USD 1.468,44, dan palladium turun 0,7% ke USD 1.211,45 per ons.

Poin Penting:

  • Emas turun 0,8% ke USD 3.734,58 per ons setelah mencapai rekor USD 3.790,82.

  • Dolar AS menguat 0,6%, menekan harga logam mulia.

  • Pasar menanti data PCE dan klaim pengangguran untuk petunjuk arah kebijakan The Fed.

  • Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina tetap mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

 

Source : Reuters.comReuters.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini