Harga Emas Mulai Tertekan di Tengah Sinyal Hawkish The Fed dan Membaiknya Hubungan Dagang AS–China


Harga emas global perlahan kehilangan tenaga penguatannya pada perdagangan Jumat (31 Oktober) waktu AS, seiring berubahnya sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta meredanya ketegangan dagang antara Washington dan Beijing. Setelah reli panjang yang ditopang pemangkasan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik, kini investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset lindung nilai.

Tekanan Datang dari Nada Hawkish The Fed dan Menguatnya Dolar

Di pasar spot, emas bergerak dalam rentang US$3.940–US$4.020 per troy ounce, turun tipis dari level puncaknya akhir pekan sebelumnya. Tekanan jual muncul setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell menunjukkan nada yang lebih hawkish, meski bank sentral baru saja memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut laporan Reuters yang mengutip analis Kpler Research, pasar kini menilai ruang pelonggaran moneter lebih sempit dari perkiraan. Pernyataan Powell mempertegas bahwa The Fed belum melihat urgensi untuk melanjutkan pemangkasan agresif, sebuah sinyal yang langsung memperkuat dolar AS serta menekan aset non-yield seperti emas.

Perbaikan Hubungan Dagang AS–China Meredam Permintaan Safe Haven

Sentimen pasar juga berubah setelah kabar bahwa Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping mencapai kesepakatan awal di Malaysia. Kedua pemimpin dilaporkan sepakat mengurangi sebagian tarif impor serta membuka kembali ekspor produk pertanian dan logam tanah jarang selama satu tahun.

Kabar ini menyuntikkan ketenangan ke pasar global setelah berbulan-bulan diliputi ketegangan dagang. Namun bagi emas, perbaikan hubungan ini justru menjadi faktor penghambat. Investor mulai kembali mengalihkan modal ke aset berisiko lebih tinggi seperti saham dan obligasi korporasi, mengurangi permintaan terhadap instrumen safe haven.

FXStreet dalam analisanya menyebut bahwa setiap tanda pelonggaran ketegangan antara AS dan China secara alami mengurangi kebutuhan investor terhadap emas. Namun mereka juga menekankan bahwa kesepakatan ini masih bersifat taktis, belum menyentuh akar persoalan struktural antara kedua negara.

Analisis Teknis: Resistensi Kuat di US$4.050, Risiko Koreksi Masih Terbuka

Secara teknikal, harga emas menghadapi resistensi ketat di sekitar US$4.050 per troy ounce. Sementara itu, level support terdekat berada pada kisaran US$3.940. Jika tekanan jual terus berlanjut, koreksi berpotensi meluas menuju area psikologis US$3.900—zona yang dalam dua minggu terakhir menjadi batas bawah yang cukup solid.

Meskipun tren jangka menengah emas masih mempertahankan pola kenaikan, kombinasi tiga faktor—sinyal hawkish The Fed, penguatan dolar AS, dan mencairnya tensi dagang AS–China—mulai membatasi ruang reli logam mulia ini.

Dalam laporan Bloomberg Intelligence, analis menulis bahwa momentum penguatan emas mulai kehilangan kekuatan. Tanpa katalis baru dari arah kebijakan moneter maupun geopolitik, aksi ambil untung kemungkinan menjadi strategi dominan investor dalam jangka pendek.

Emas kini berada pada fase penantian, menunggu pemicu baru untuk menentukan apakah tren bullish dapat berlanjut atau justru berubah menjadi koreksi yang lebih dalam.


Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini