Yen Jepang Melemah Mendekati Level Terendah Sepekan terhadap Dolar AS


Yen Jepang (JPY) kembali tertekan dan diperdagangkan mendekati level terendah dalam satu minggu pada Rabu (12 Februari), meski dalam beberapa hari sebelumnya sempat menunjukkan permintaan yang kuat. Kekhawatiran pasar terkait dampak ekonomi dari kebijakan tarif impor komoditas yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, serta potensi tarif balasan, menciptakan ketidakpastian baru di pasar global. Namun, justru meningkatnya minat risiko (risk-on sentiment) menjadi faktor utama yang melemahkan daya tarik yen sebagai aset safe haven. Bersamaan dengan munculnya permintaan baru terhadap dolar AS (USD), pasangan USD/JPY mampu mempertahankan kenaikan solidnya di atas kisaran tengah 153 menjelang sesi Eropa.

Komentar hawkish dari Ketua Federal Reserve (Fed), Jerome Powell, pada Selasa turut memperberat tekanan terhadap yen. Pernyataannya meredam harapan bahwa selisih suku bunga antara AS dan Jepang akan menyempit dalam waktu dekat. Prospek suku bunga AS yang tetap tinggi lebih lama menjadikan dolar semakin menarik bagi investor global, sehingga mengalihkan aliran dana dari mata uang berimbal hasil rendah seperti JPY. Hal ini memperkuat tren pelemahan yen meski ketidakpastian di pasar global belum sepenuhnya mereda.

Kendati demikian, ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan membuat pasar tetap berhati-hati. BoJ menunjukkan sinyal bahwa normalisasi kebijakan moneter akan terus berlanjut, sehingga trader yen tidak sepenuhnya mengambil posisi bearish secara agresif. Faktor ini menciptakan ruang bagi potensi pembalikan apabila kebijakan moneter Jepang bergerak lebih ketat dibandingkan perkiraan pasar.

Menjelang dirilisnya data inflasi konsumen AS yang sangat ditunggu, pelaku pasar cenderung menahan diri untuk tidak melakukan aksi spekulatif berlebihan pada pasangan USD/JPY. Data tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya, sekaligus menjadi katalis utama bagi pergerakan yen dan dolar dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, kombinasi sentimen risiko global, kebijakan tarif AS, dan proyeksi suku bunga yang menyempitkan peluang penguatan yen menjadikan mata uang Jepang berada dalam tekanan yang cukup kuat menjelang sesi perdagangan berikutnya.

Source: FXStreet

Komentar

Postingan populer dari blog ini