Bitcoin Mendekati US$100.000 dalam Lonjakan Mengejutkan Awal Tahun


Awal tahun membawa harapan baru bagi Bitcoin. Setelah berbulan-bulan bergerak stagnan, aset kripto terbesar di dunia ini kembali menunjukkan momentum kuat. Pada Rabu, Bitcoin berhasil menembus level US$97.000 untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir dan mencatatkan kenaikan lebih dari 6% dalam sepekan. Lonjakan ini menghidupkan kembali optimisme pasar terhadap prospek Bitcoin di awal 2026, terutama setelah periode volatilitas tajam di penghujung tahun sebelumnya.

Kenaikan harga Bitcoin terjadi di tengah dinamika makroekonomi dan politik Amerika Serikat yang memanas. Pernyataan mengejutkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang menuding adanya tekanan politik terhadap independensi bank sentral, memicu kekhawatiran investor global. Situasi tersebut menekan dolar AS dan mendorong peralihan dana ke aset lindung nilai, termasuk emas dan aset kripto. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin kembali dipandang sebagai alternatif penyimpan nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian institusional.

Faktor inflasi juga memainkan peran penting dalam reli Bitcoin terbaru. Data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan memberikan sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda. Lingkungan makro global yang lebih kondusif ini memperkuat daya tarik aset berisiko, termasuk Bitcoin. Tekanan terhadap dolar AS, yang secara historis memiliki korelasi negatif dengan Bitcoin, turut memberikan dorongan tambahan bagi pergerakan harga kripto utama tersebut.

Russell Thompson, Chief Investment Officer Hilbert Group, menilai latar belakang makro saat ini mendukung penguatan Bitcoin. Ia menekankan bahwa data CPI yang lebih rendah, ditambah kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed, telah menekan dolar dan membuka ruang bagi Bitcoin untuk menguat. Dalam konteks ini, Bitcoin kembali berfungsi sebagai aset alternatif yang sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter dan sentimen global.

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah altcoin utama juga menikmati sentimen positif. Ethereum mencatatkan kenaikan lebih dari 4% dalam sepekan terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$3.338. Sementara itu, Solana menguat lebih dari 3% dan bertahan di sekitar level US$144. Kenaikan ini mencerminkan pemulihan minat investor terhadap pasar kripto secara keseluruhan, seiring membaiknya sentimen risiko global.

Namun, reli awal 2026 ini datang setelah tahun 2025 yang mengecewakan bagi Bitcoin. Sepanjang 2025, harga Bitcoin turun lebih dari 6% meskipun adanya kebijakan yang relatif pro-kripto dari pemerintahan Donald Trump, termasuk pengesahan Genius Act pada Juli. Kinerja ini sangat kontras dengan pasar saham AS, di mana indeks S&P 500 justru mencatatkan pertumbuhan sekitar 17% dalam periode yang sama.

Pada awal Oktober 2025, Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000. Namun, tiga bulan terakhir tahun tersebut menghapus seluruh kenaikan tersebut. Harga Bitcoin anjlok tajam hingga ke level US$84.000 pada akhir November, atau turun sekitar 33% dari puncaknya. Penurunan besar ini diperparah oleh insiden “October flash crash” yang menyebabkan kerugian aset trader mencapai US$19 miliar.

Meski kuartal terakhir 2025 menjadi periode yang ingin segera dilupakan oleh pelaku pasar kripto, pergerakan harga Bitcoin di awal 2026 menunjukkan sinyal yang jauh lebih konstruktif. Lonjakan menuju area US$100.000 mencerminkan kembalinya kepercayaan investor dan membuka peluang bagi Bitcoin untuk memasuki fase pemulihan yang lebih berkelanjutan, seiring stabilnya kondisi makro dan meningkatnya minat terhadap aset digital.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini