Dolar AS Menguat, Harga Emas Tertekan Kembali di Tengah Lonjakan Yield dan Ketegangan Timur Tengah
Harga emas kembali berada di bawah tekanan setelah penguatan signifikan dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengurangi daya tarik logam mulia tersebut. Kondisi ini membuat emas berpotensi mencatat penurunan mingguan pertama dalam lebih dari satu bulan terakhir. Meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah masih memanas, premi risiko dari ketegangan tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan dari faktor makroekonomi global.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga bullion ditutup dengan penurunan mingguan sekitar 3,7% sebelum akhirnya mencoba stabil pada perdagangan awal hari Jumat. Di sisi lain, indeks dolar AS melonjak sekitar 1,4% sepanjang pekan ini, menandai kenaikan terbesar sejak November 2024. Pada saat yang sama, harga obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut, mendorong imbal hasil (yield) naik ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. Kombinasi penguatan dolar dan kenaikan yield ini menjadi faktor utama yang menekan harga emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memicu lonjakan harga minyak global. Kenaikan harga energi ini berdampak pada perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Para pelaku pasar kini mulai mengurangi perkiraan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Berdasarkan pergerakan di pasar swap, investor saat ini hanya memperkirakan pemotongan suku bunga sekitar 34 basis poin hingga akhir tahun, turun tajam dibandingkan ekspektasi sekitar 60 basis poin pada akhir pekan lalu. Dalam kondisi seperti ini, biaya pinjaman yang lebih tinggi serta penguatan dolar biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Di sisi geopolitik, pasar global tetap berhati-hati karena konflik di Timur Tengah telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone pada Kamis malam yang menargetkan beberapa wilayah di kawasan Teluk, termasuk fasilitas kilang minyak di Bahrain. Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan udara ke wilayah Teheran, dan Amerika Serikat dilaporkan menangguhkan operasional di kedutaannya di Kuwait sebagai langkah keamanan.
Risiko gangguan pasokan energi global juga meningkat seiring dengan serangan terhadap infrastruktur energi serta penutupan efektif jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak menuju potensi kenaikan mingguan terbesar sejak tahun 2022, yang semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas energi global.
Tekanan tambahan terhadap emas juga datang dari dinamika pasar keuangan yang lebih luas. Penurunan tajam di pasar saham global sepanjang pekan ini memaksa sebagian investor untuk menjual emas sebagai sumber likuiditas guna menutup kerugian di aset lain. Kondisi ini membuat pergerakan emas menjadi lebih sensitif terhadap volatilitas pasar saham.
Selain itu, muncul kekhawatiran baru setelah beredar rumor bahwa beberapa bank sentral mungkin akan melepas sebagian cadangan emas mereka. Salah satu yang menjadi perhatian adalah spekulasi mengenai bank sentral Polandia yang disebut-sebut mempertimbangkan penjualan cadangan emas untuk membiayai peningkatan pengeluaran pemerintah. Walaupun belum ada konfirmasi resmi, rumor tersebut cukup memicu kekhawatiran di pasar logam mulia.
Pada perdagangan Jumat pagi di kawasan Asia, harga emas spot tercatat naik tipis sekitar 0,2% menjadi $5.101,32 per troy ounce pada pukul 08:22 waktu Singapura. Sementara itu, perak menunjukkan kenaikan sekitar 1,3% menjadi $83,30. Logam mulia lainnya seperti platinum dan palladium juga ikut mencatatkan penguatan pada sesi perdagangan yang sama.
Meskipun momentum kenaikan emas terlihat melambat dalam beberapa hari terakhir, secara keseluruhan kinerja logam mulia ini masih cukup kuat sepanjang tahun. Hingga saat ini, harga emas telah mencatat kenaikan sekitar 18% sejak awal tahun. Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk ketidakpastian perdagangan global, ketegangan geopolitik, serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar